Cerita Kerja Praktek #2 (dilema wartrap)

Seputar Magang

Setiba dijakarta, aku dan teman-temanku menginap di kantor tenriola di daerah Tebet.

Menurut keterangan Bapakku, cita rasa makanan di daerah tebet ini enak-enak. Hal itu diperkuat oleh pendapat salah satu pakar kuliner Indonesia, Bondan Winarno,  bahwa ada Warteg enak di daerah tebet yang bernama Warteg Warmo.

Begitu malam menjelang dan lapar menerjang, aku dan teman-teman berburu makanan di Tebet raya.

Setelah cukup jauh berjalan kaki dan bingung mau milih tempat makan yang tepat, bang Jaka menunjuk ke arah Warteg Warmo di sebrang jalan.

Kami pun langsung kesana tanpa mikir lagi karena memang perut sudah lapar. Ada 1 fakta menarik yang aku temukan pas nyebrang jalan, bahwa lalu lintas di jakarta ini GAK TERTIB KALI BAH!

Orang-orang yang berkendara kayak bawa kuda liar. Padahal posisi lampu lalu lintas dalam keadaan merah dan kami menyebrang di zebra cross, tapi kami disorot lampu jauh dan di klakson berbalasan. Koplak!

Tiba di Warteg Warmo Tebet

Sampai di Warmo, aku langsung pesan Nasi+Telur Ceplok+Tahu Opor+Sayur Cap cay. Teman-temanku juga mesen lauk yang bervariasi. Ada Rodez yg pake lele, Ipul yang pake udang, Ano pesen kopi doang, Bayu pake … wah lupa, yang jelas kami semua pesan makanan atau minuman di warung itu.

Suap demi suap ku lahap makanan yang ada di piringku dan tanpa terasa sudah sampai ke sendok yang terakhir. Penilaianku, makanan di warmo ini emang enak.

Akhirnya, tiba juga saat menegangkan yang ditunggu2 (khususnya mahasiswa) yaitu BAYAR.

Aku : “Mas, saya udah nih, berapa ya?”

Mas-mas di warung : “Pake apa aja mas?”

Aku : “Nasi+telur ceplok+sayur cap cae+tahu opor ama minumnya aer putih”

Mas-mas di warung : “hmm, sepuluh mas”

Alamak! mahal juga ya. Si Rodez kena 11 ribu, si Ipul kena 13 ribu, si Ano … waduh lupa lagi nih bajet yg dikeluarin teman-teman lain.

Setauku sih warteg itu dikenal dengan terjangkaunya harga. Secara kalau uang saku menipis di bandung, warteg adalah solusi terpercaya buat mengatasi perut lapar. Tapi setelah ku analisis lagi sih mungkin harga di Warmo terjangkaunya bukan buat mahasiswa tapi lebih kepada pekerja-pekerja kantoran.

Pulang dari sana, ada istilah baru yang muncul menurut Kamus Besar Bahasa Rodez yaitu “Wartrap”.

Wartrap (Warung Trap) adalah warung yang menjebak

Itu adalah kejadian di hari pertama. Malam pun tiba di hari kedua, aku dan teman-temanhunting makanan lagi di Tebet Raya. Kali ini perjalanannya lebih jauh lagi dari Wartrap.

Nasi Uduk kaki 5 jadi pilihan kami untuk bersantap malam. Secara “kaki 5”, pasti harganya nge-bro nih. Sambil menunggu pesanan datang, aku agak sedikit heran, kok yang datang ke warung kaki 5 ini orang-orang yang bermobil ya?

Tapi, belum sempat aku mikir lebih jauh, Nasi Uduk+Ayam Goreng+tempe Goreng pun tiba.

Interface (antarmuka) dari nasi uduknya sih sedikit, mungkin perlu 3 porsi kayak gitu buat bikin perutku kenyang. Tapi tak apa lah, secara kaki 5. Aku sih masi berpikir positif aja. Akhirnya, aku selesai makan lebih dulu dari teman-teman. karena masi lapar, pengennya sih bungkus 1 porsi lagi buat makan dirumah.

Tapi sebelum pesan bungkus, aku tanya berapa harga makanan pesananku. Eeee ternyata 16 ribu! Bah! kaki 5 macam apa ini, porsi sedikit harganya selangit. Temen-temen lain juga ikut kaget. Udah deh mulai saat itu, Nasi Uduk kaki 5 itu kami black-list.

Baru aja tiba ditebet 2 hari, aku udah dikhianati warteg ama kaki 5 nih. Kalo pengeluaran tiap hari tembus 30 ribu lebih, bisa defisit nih anggaran belanja negara selama di Jakarta.

Tapi tak apalah, yang penting bisa kuat bekerja dan seperti kata Rodez “sehat walafiat”. Salam mahasiswa!

2 pemikiran pada “Cerita Kerja Praktek #2 (dilema wartrap)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *